Nama : Aulia Richa Saufani

NIM : P1337434124039

Prodi/ Kelas: D3TLM REG A T2


FIKOMIKOSIS SUBKUTAN

 

Mikosis Subkutan - gambaran umum | Topik ScienceDirect

Sumber: https://www.sciencedirect.com/topics/medicine-and-dentistry/subcutaneous-mycosis

A.    Pengertian

Fikomikosis subkutan adalah kelompok infeksi jamur kronis yang terjadi di bawah kulit (jaringan subkutan) akibat inokulasi traumatis spora jamur dari lingkungan. Infeksi ini biasanya timbul setelah kulit tertusuk duri, kayu, atau benda tajam yang terkontaminasi jamur saprofit. Penyakit ini lebih sering dijumpai di daerah tropis dan subtropis, terutama pada individu yang bekerja di luar ruangan seperti petani, pekebun, dan pekerja hutan (Queiroz-Telles et al., 2017).

 

B.    Epidemiologi

Fikomikosis subkutan seperti mycetoma, kromoblastomikosis (chromoblastomycosis), dan sporotrichosis umumnya ditemukan di daerah tropis dan subtropis dengan iklim lembap. Ini dikarenakan lingkungan seperti tanah, tanaman atau bahan organik yang sering menjadi reservoir jamur penyebabnya (Enbiale, 2023).

Data epidemiologi fikomikosis subkutan di Indonesia masih sangat terbatas karena penyakit ini jarang dilaporkan serta tidak termasuk dalam sistem surveilans wajib. Salah satu penelitian yang cukup representatif dilakukan di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta dalam kurun waktu 1989–2013. Dalam periode tersebut tercatat sebanyak 16 kasus mikosis subkutan, yang terdiri dari lima kasus subcutaneous mucormycosis, empat kasus eumycetoma, empat kasus actinomycetoma, dan tiga kasus chromoblastomycosis. Distribusi kasus menunjukkan bahwa laki-laki lebih banyak dibanding perempuan dengan rasio sekitar 3:1, serta mayoritas pasien berusia produktif antara 25–44 tahun. Sebagian besar pasien memiliki faktor risiko berupa pekerjaan yang sering berkontak langsung dengan tanah atau lingkungan luar, sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya inokulasi jamur melalui trauma kecil pada kulit. Lokasi lesi paling sering ditemukan pada ekstremitas bawah, sesuai dengan jalur masuknya jamur akibat luka saat beraktivitas. Temuan ini menegaskan bahwa walaupun kasus fikomikosis subkutan di Indonesia relatif jarang, penyakit ini tetap perlu mendapat perhatian karena dapat menimbulkan morbiditas yang signifikan, terutama pada kelompok usia produktif (Yahya, 2016).

 

C.    Gejala Klinis

Jenis jamur penyebab fikomikosis subkutan menentukan gejala klinis utama penyakit. Munculnya nodul subkutan yang awalnya tidak sakit kemudian berkembang menjadi sinus atau fistula yang mengeluarkan nanah bersama granula (grains) jamur adalah gejala mycetoma (eumycetoma). Selanjutnya, infeksi dapat menyebabkan kerusakan pada otot, tendon, bahkan tulang, yang dapat menyebabkan deformitas atau amputasi (Sukmawati et al., 2015). Pada kromoblastomikosis, lesi kulit yang muncul biasanya berbentuk plak atau nodul dengan pigmentasi gelap yang berkembang perlahan di ekstremitas dan sering menyerupai kutil atau tumor. Infeksi jenis ini umumnya tidak dapat sembuh spontan tanpa pengobatan (Queiroz-Telles et al., 2017).

Sementara itu, sporotrikosis, yang sering disebut “penyakit pekebun”, ditandai oleh nodul subkutan kecil pada tangan atau lengan yang berkembang mengikuti jalur pembuluh limfatik; nodul ini dapat mengalami ulserasi dan pada kasus berat bisa menyebar ke organ lain (Barros et al., 2011). Pada faeohipomikosis subkutan, gejalanya berupa benjolan atau pembengkakan subkutan yang tumbuh lambat, biasanya tidak nyeri, serta sering disalahdiagnosis sebagai tumor atau tuberkulosis kulit. Lesi dapat muncul di tungkai maupun lengan, dengan konsistensi keras (Revankar & Sutton, 2010).

 

D.    Patofisiologi

Fikomikosis subkutan biasanya terjadi akibat inokulasi jamur ke jaringan subkutan melalui luka kecil, seperti tusukan duri, goresan tanah, atau trauma ringan lainnya. Spora atau hifa jamur yang berasal dari lingkungan (tanah, tumbuhan, atau materi organik) masuk ke jaringan dan sulit dieliminasi oleh sistem imun. Ini karena dinding sel jamur mengandung melanin dan polisakarida, yang melindungi jamur dari fagositosis dan stres oksidatif (Queiroz-Telles et al., 2017).

Kegagalan sistem imun menyingkirkan jamur memicu pembentukan respons inflamasi kronis berupa granuloma. Setiap jenis mikosis subkutan memiliki karakteristik unik. Pada kromoblastomikosis, sel-sel berbentuk muriform, pada misetoma muncul sinus yang mengeluarkan granula (biji), dan pada sporotrikosis, lesi mengikuti jalur limfatik. Infeksi dapat menyebar ke jaringan dalam seperti tendon, otot, dan tulang jika berlangsung lama, menyebabkan kerusakan struktural dan deformitas (Revankar & Sutton, 2010).

Secara ringkas, patofisiologi mikosis subkutan mencakup tiga tahap utama: inokulasi jamur melalui trauma minor, evasi terhadap mekanisme pertahanan imun, dan respons inflamasi kronis yang menyebabkan lesi progresif serta kerusakan jaringan.

 

E.    Diagnosis

Sebagian besar, diagnosis mikosis subkutan dilakukan melalui kombinasi pemeriksaan klinis, mikroskopis, kultur, dan histopatologi. Pasien yang memiliki riwayat trauma di daerah endemis kemudian menunjukkan lesi subkutan jangka panjang dalam bentuk nodul, plak, atau sinus yang mengeluarkan material unik (Queiroz-Telles et al., 2017).

Pemeriksaan mikroskopis langsung menggunakan KOH 10–20% atau pewarnaan khusus seperti PAS dan GMS dapat menunjukkan adanya hifa jamur atau struktur khas, misalnya muriform cells pada kromoblastomikosis atau granula (grains) pada misetoma (Bonifaz & Tirado-Sánchez, 2017). Kultur jamur di media Sabouraud Dextrose Agar (SDA) kemudian dilakukan untuk identifikasi spesies penyebab secara lebih akurat.

Histopatologi juga penting untuk membedakan jenis mikosis: kromoblastomikosis memperlihatkan sel bulat berwarna cokelat (sclerotic/muriform cells), sporotrikosis menunjukkan reaksi granulomatosa dengan hifa halus, sedangkan misetoma menampilkan agregat hifa berwarna yang sesuai dengan jenis jamur. Pada kasus tertentu, pemeriksaan molekuler (PCR atau sequencing) digunakan untuk konfirmasi spesies penyebab, terutama bila kultur sulit atau pertumbuhan jamur lambat (Queiroz-Telles et al., 2017).

 

F.    Etiologi

Fikomikosis subkutan disebabkan oleh berbagai spesies jamur yang masuk ke dalam jaringan subkutan melalui trauma, terutama luka tusuk oleh duri, serpihan kayu, atau tanah yang terkontaminasi. Agen penyebab biasanya saprobik di lingkungannya, hidup di tanah, vegetasi, dan bahan organik yang membusuk. Setelah berhasil menembus kulit manusia, mereka menjadi oportunistik (Queiroz-Telles et al., 2017).

Penyakit ini memiliki beberapa kelompok etiologi. Mesetoma (Eumycetoma) disebabkan oleh Madurella mycetomatis, Exophiala jeanselmei, dan Fusarium spp. Kromoblastomikosis disebabkan oleh jamur dematiaceous seperti Fonsecaea pedrosoi, Cladophialophora carrionii, dan Phialophora verrucosa. Sporotrikosis disebabkan oleh Sporothrix schenckii kompleks. Berbagai jamur hialin dan dematiaceous, seperti Exophiala spp. dan Alternaria spp., dapat menyebabkan faeohifomikosis dan zigomikosis subkutan. Sebaliknya, Basidiobolus ranarum dan Conidiobolus coronatus dapat menyebabkan zigomikosis (Bonifaz & Tirado-Sánchez, 2017).

Pekerjaan atau aktivitas yang sering terpapar tanah dan vegetasi, seperti petani, pekebun, atau pekerja hutan, merupakan faktor risiko utama. Oleh karena itu, penyakit ini banyak ditemukan di wilayah tropis dan subtropis, seperti Afrika, Asia Tenggara, dan Amerika Latin.

 

G.   Penatalaksanaan

Penatalaksanaan mikosis subkutan bervariasi tergantung pada jenis infeksinya, tingkat keparahan, dan lokasi lesi. Prinsip utama terapi adalah eradikasi jamur dengan kombinasi antijamur sistemik, terapi bedah, dan perawatan suportif. Pada misetoma (eumycetoma), obat lini pertama adalah itraconazole atau posaconazole jangka panjang, terkadang dikombinasikan dengan pembedahan untuk mengangkat jaringan yang rusak (Bonifaz & Tirado-Sánchez, 2017).

Terapi farmakologis utama untuk kromoblastomikosis adalah itraconazole (200–400 mg/hari) atau terbinafine dalam jangka panjang. Sebagian besar penyakit membutuhkan kombinasi terapi obat dan teknik fisik, tetapi penyakit kecil dapat ditangani dengan bedah eksisi atau krioterapi (Queiroz-Telles et al., 2017). Sporotrikosis biasanya diobati dengan itraconazole, tetapi dalam kasus yang parah atau menyebar, amphotericin B mungkin diperlukan diikuti oleh itraconazole oral. Untuk faeohifomikosis dan zigomikosis subkutan, pendekatan utama adalah menggabungkan eksisi bedah dengan pemberian antijamur seperti voriconazole, posaconazole, atau amphotericin B. Ini penting karena beberapa spesies jamur tidak tahan terhadap pengobatan tunggal dengan obat. Penggunaan pelindung diri saat bekerja di lingkungan berisiko tinggi adalah pencegahan (Bonifaz & Tirado-Sánchez, 2017).

 

H.   Daftar Pustaka

Barros, M. B. L., de Almeida Paes, R., & Schubach, A. O. (2011). Sporothrix schenckii and sporotrichosis. Clinical Microbiology Reviews, 24(4), 633–654. DOI: https://doi.org/10.1128/CMR.00007-11

Bonifaz, A., & Tirado-Sánchez, A. (2017). Cutaneous fungal infections: diagnosis and treatment. Dermatologic Therapy, 30(1), e12444. https://doi.org/10.1111/dth.12444

Enbiale, W., Bekele, A., Manaye, N., Seife, F., Kebede, Z., Gebremeskel, F., & van Griensven, J. (2023). Subcutaneous mycoses: endemic but neglected among the neglected tropical diseases in Ethiopia. PLoS Neglected Tropical Diseases17(9), e0011363. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0011363

Netty Sukmawati, dkk.. (2015). Karakteristik Mikosis Subkutan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya 2010–2014. Berkala Ilmu Kesehatan Kulit & Kelamin FK Unair, 27(2), 121–129. https://e-journal.unair.ac.id/BIKK/article/download/1571/1219/2947

Queiroz-Telles, F., de Hoog, S., Santos, D. W. C. L., Salgado, C. G., Vicente, V. A., Bonifaz, A., & Colombo, A. L. (2017). Chromoblastomycosis. Clinical Microbiology Reviews, 30(1), 233–276. https://doi.org/10.1128/CMR.00032-16

Revankar, S. G., & Sutton, D. A. (2010). Melanized fungi in human disease. Clinical Microbiology Reviews, 23(4), 884–928. https://doi.org/10.1128/CMR.00019-10

Yahya, S., Widaty, S., Miranda, E., Bramono, K., & Islami, A. W. (2016). Subcutaneous mycosis at the department of dermatology and venereology dr. Cipto Mangunkusumo National Hospital, Jakarta, 1989-2013. Journal of General-Procedural Dermatology & Venereology Indonesia1(2), 1. https://scholarhub.ui.ac.id/jdvi/vol1/iss2/1

Komentar